Review Novel "86" karya Okky Madasari

    Apa yang terlintas di pikiran kalian tentang cerita di balik judul '86'? Tentang kepolisian? Tindakan kriminal? Atau mungkin sebuah acara di televisi? Jujur, aku nggak ada ekspektasi apa pun tentang jalan cerita di balik buku bersampul kuning ini. Yang kutahu buku ini cukup banyak direkomendasikan di kalangan literasi di sosial media. Pas banget juga tiba-tiba ketemu ini di Ipusnas dan lagi nggak ngantre alias tersedia banyak, langsung aja ,deh aku pinjam. Ini adalah salah satu buku yang aku baca di Bulan Juli. Yuk langsung kita simak review selengkapnya!
Source: goodreads

Identitas buku:

Judul: 86
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-226-769-3
Tahun terbit: Maret, 2011
Tebal buku: 256 hlm.

Sinopsis:

    Apa yang bisa dibanggakan dari pegawai rendahan di pengadilan? Gaji bulanan, baju seragam, atau uang pensiunan?
    Arimbi, juru ketik di pengadilan negeri, menjadi sumber kebanggaan bagi orangtua dan orang-orang di desanya. Generasi dari keluarga petani yang bisa menjadi pegawai negeri. Bekerja memakai seragam tiap hari, setiap bulan mendapat gaji, dan mendapat uang pensiun saat tua nanti.
    Arimbi juga menjadi tumpuan harapan, tempat banyak orang menitipkan pesan dan keinginan. Bagi mereka, tak ada yang tak bisa dilakukan oleh pegawai pengadilan.
    Dari pegawai lugu yang tak banyak tahu, Arimbi ikut menjadi bagian orang-orang yang tak lagi punya malu. Tak ada yang tak benar kalau sudah dilakukan banyak orang. Tak ada lagi yang harus dilakukan kalau semua orang sudah menanggap sebagai kewajaran.
    Pokoknya, 86!

Cerita singkat:

    Buku ini menceritakan tentang kisah seorang wanita bernama Arimbi. Ia bekerja di Jakarta di kantor pengadilan. Bukan sebagai pengacara, hakim, atau jaksa, melainkan sebagai juru ketik. Seorang juru ketik dengan gaji sangat pas-pasan yang setiap bulan selalu habis. Ia menjadi kebanggan kedua orangtuanya di kampung halaman karena anaknya bekerja di Jakarta.
    Lambat laun, ia mulai bertemu dengan Ananta. Pria yang ia temui saat pindah kontrakan. Ternyata kantornya tidak begitu jauh dari kantor Arimbi. Mereka pun mulai semakin dekat dan akhirnya memutuskan untuk menikah.


    Sejak menikah, kebutuhan mereka berdua tentu semakin banyak, sedangkan gaji tetap segitu-segitu saja. Apalagi Ananta yang gajinya kadang kurang untuk dirinya sedniri. Mereka berusaha memutar otak bagaimana caranya mendapat peghasilan lebih. Dari teman Arimbi yang bernama Anisa, ia menemukan cara agar mendapat gaji tambahan. Sebenarnya Anisa sudah memberi kode sejak lama agar Arimbi mendapat uang tambahan dari tiap kasus yang dikerjakannya, tapi Arimbi yang sangat polos itu masih belum paham dengan yang dimaksud. Perlahan Arimbi mulai mengetahui cara-cara agar mendapat tambahan tersebut. Layaknya makan permen, mendapat penghasilan tambahan seperti ini membuat Arimbi menjadi ketagihan. Awalnnya ia mendapat 200.000 rupiah untuk satu kasus. Ia pun mulai menghitung-hitung jika mendapat 200.000 untuk satu kasus dikali dengan 30 hari pasti akan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan ia dan suaminya.
    Sampai suatu hari, ia akan mendapat tambahan, bukan ratusan ribu seperti biasanya, melainkan puluhan juta! Ia sudah bekerja sama dengan atasannya yang bernama Bu Danti untuk merahasiakan hal tersebut. Tapi tiba-tiba saja ia ditangkap oleh KPK di rumah atasannya tersebut beserta bukti-bukti yang tersedia. Mereka berdua pun dijatuhi hukuman penjara atas dugaan kasus suap.
    Selama berada di balik jeruji besi, banyak kejadian yang dan musibah yang menimpa Arimbi dan suaminya bertubi-tubi. Apa saja permasalahan-permasalahan itu? Lalu bagaimana Arimbi dapat 'menyelesaikan' masalahnya tersebut?

Review:

    Cerita Arimbi ini mungkin atau sudah pasti terjadi di negara kita saat ini. Dari berbagai kasus yang sering kita lihat di televisi, sosial media, atau mungkin kasus-kasus yang memang sengaja ditenggelamkan agar tidak banyak ditahu oleh masyarakat. Seakan-akan hal-hal seperti ini sudah biasa dan tidak salah untuk dilakukan. Tentu banyak sekali pesan yang disampaikan oleh penulis melalui cerita ini:
  • Tidak mudah dipengaruhi orang lain
  • Bersikap tegas
  • Harus mampu bersikap seadil mungkin
  • dan masih banyak lagi
    Namun, terkadang faktor ekonomi yang membuat orang-orang 'terpaksa' berbuat yang negatif hanya demi mendapat uang untuk ememnuhi kebutuhan hidup. 

Baca juga: Bacaan Bulan Juni

    Di bagian awal sampai pertengahan, cerita ini dibuat seakan berjalan lambat, mulai dari kehidupannya saat masih kuliah, saat pindah kontrakan, dan saat pulang kampung. Kemudian cerita ini dilanjutkan dengan sangat santai, jadi tidak ada kesan 'terpaksa' untuk melanjutkan membaca. Pembahasaannya pun dibuat seakan kita sedang berada di suasana tersebut. Lalu di bagian akhir, cerita ini dibuat sedikit 'gantung' sehingga belum tentu bisa ditebak bagaimana akhirnya.

    Buku ini direkomendasikan untuk pembaca yangs udah berumur 18 tahun ke atas yaa. Sekian untuk review kali ini, boleh juga komen di bawah yaa kira-kira buku apa lagi yang boleh aku review. Hope you like it and happy reading guys!

You can also read:

Comments

  1. Betul mbak, sekarang ini segala sesuatu yang dilakukan oleh banyak orang sudah pasti dianggap benar walaupun sebenarnya salah. Berarti buku ini juga bercerita tentang bagaimana banyaknya kasus suap yang sudah biasa ya mbak. Menarik juga ceritanya.... Melihat dari sudut pandang pihak yang bersalah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai! bener Mbak Astria, buku ini membuat pandangan kita lebih luas, apalagi tentang hal-hal yg terjadi saat ini, hal yang sebenarnya salah, tapi sudah dianggap biasa oleh orang-orang

      Delete

Post a comment